Syafaatmu Kelak Di Syurga

 

Seluruh syafaat milik Allah.
Di dalam surat az Zumar : 44 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Katakanlah: “Hanya kepunyaan Allah syafa’at itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepadaNya-lah kamu dikembalikan”

Pada kalimat ﷲ ﺍﻟﺸﻔﺎﻋﺔ dikedepankannya khobar atas mubtada’ bertujuan sebagai pembatasan. Yaitu, hanya milik Allah semata seluruh syafa’at. Tidak ada satu pun dari syafa’at-syafa’at tersebut yang keluar dari izin Allah dan keinginanNya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha sempurna dalam ilmu, kekuasaan dan lain-lain dari sifat-sifatNya yang Maha sempurna. Hal ini berbeda dengan para raja atau penguasa di dunia yang tidak memiliki sifat-sifat sempurna dalam hal ilmu, kekuasaan dan lainnya, maka mereka memerlukan syufa’a , yaitu para perantara atau penolong. Oleh sebab itu sangat dimungkinkan bagi syufa’a yang dekat dengan raja atau penguasa untuk memberikan syafa’atnya kepada pihak yang membutuhkannya, walaupun tanpa seizin raja atau penguasa tersebut.

Macam macam syafaat:
Dari ayat di atas, dalam firmanNya ﺟﻤﻴﻌﺎ (semuanya), mengandung pelajaran bahwa syafa’at itu bermacam-macam. Para ulama telah membagi syafa’at menjadi dua bagian utama :

Pertama : Syafa’at yang khusus untuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syafa’at beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini bermacam-macam :

1. Syafa’at terbesar (al ‘udzma atau al kubra). Syafa’at ini khusus dimiliki Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak ada seorang pun, dari para rasul ulul ‘azmi yang menyamai beliau Shallallahu ‘alaihi wa salalm. Syafa’at terbesar ini akan diberikan kepada hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang beriman kelak di padang Mahsyar.

2. Syafa’at beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada calon penghuni surga yang sudah berada di luar pintu surga agar segera masuk surga. Pintu-pintu surga dapat dibuka dengan izin Allah melalui syafa’at Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalil tentang syafa’at ini bisa ditemui dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ

“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Rabb-nya dibawa ke surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu, sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka para penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu. Maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya”. [az Zumar/39 :73].

Dalam firmannya فُتِحَتْ (telah terbuka) ada kalimat yang terhapus yaitu

ﺣَﺼَﻞَ ﻣَﺎﺣَﺼَﻞَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﻔَﺎﻋَﺔِ

(telah tercapai apa yang akan dicapai membuka pintu-pintu surga) dari syafa’at.)

3. Syafa’at Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada pamannya Abu Thalib agar diringankan azabnya. Syafa’at ini merupakan pengecualian dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

فَمَا تَنفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ

“Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at” [al Muddatsir : 48].

يَوْمَئِذٍ لاَتَنفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلاَّ مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلاً

“Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Allah Maha pemurah telah memberi izin kepadanya dan Dia meridhai perkataannya”. [Thaha : 109].

Azab neraka yang akan diterima oleh Abu Thalib adalah, ia kelak akan menggunakan alas kaki dari api neraka yang akan membuat otaknya mendidih. Syafa’at ini khusus untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada seorang pun yang dapat memberikan syafa’at kepada orang kafir, kecuali Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syafa’at beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Thalib tidaklah diberikan atau dikabulkan secara sempurna, akan tetapi sekedar meringankan azab Abu Thalib, lantaran di dunia ia membela keponakannya dari gangguan kaum kafir Quraisy.

Orang orang yang suka melaknat al quran tidak akan pernah mendapatkan syafaat.