Akhlak Di Media Sosial

Perkembangan media sosial yang semakin pesat akhir-akhir ini, jika dihadapi dengan sikap “latah” tentu akan berdampak buruk bagi para penggunanya. Memang pada prinsipnya teknologi itu diciptakan untuk kemudahan bagi manusia. Dalam prakteknya, tentu sangat tergantung kepada para pengguna, di mana teknologi itu bisa bermuara kepada manfaat dan bisa pula berujung pada mudharat. Sama halnya seperti pisau, bisa digunakan untuk memotong daging atau sayuran, dan bisa pula untuk membunuh.

Melalui media sosial kita bisa berbagi informasi yang bermanfaat. Di sana, kita bisa berdagang, bisa membuka ruang diskusi hingga menjadikannya sebagai wadah menyambung silahturahim. Di sisi yang lain, melalui media sosial, kita juga bisa melakukan kejahatan. Sebutlah penipuan, transaksi narkoba, perjudian online, provokasi dan sederetan kejahatan lainnya.

Di sinilah dituntut moralitas dan etika bagi warga dunia maya (netizen) agar tidak salah kaprah dalam menggunakan media sosial. Sama halnya dengan kejahatan di “dunia nyata”, kejahatan di “dunia maya” juga bisa berurusan dengan hukum sebagaimana telah diatur dalam undang-undang (ITE).

Jika dicermati, kejahatan yang dilakukan via media sosial terlihat “lebih aman” dibanding dengan kejahatan di dunia nyata. Proses pelacakan kejahatan via media sosial juga terbilang sulit. Di sini yang kita hadapi adalah “manusia-manusia maya”, berbeda dengan “manusia nyata” yang jelas bentuk dan wujudnya.

Seorang warga dunia nyata ketika ia masuk ke dunia maya, ia bisa “menciptakan” diri menjadi beberapa wujud (akun). Seorang yang alim di dunia nyata bisa saja memosisikan diri sebagai “munafik” di dunia maya. Demikian pula sebaliknya, seorang penjahat kelas kakab di dunia nyata bisa pula mencitrakan dirinya sebagai seorang ustaz di dunia maya.

Bahkan, bukan tidak mungkin, satu sosok di dunia nyata bisa berubah menjadi three in one melalui tiga akun Facebook. Melalui akun asli dia menyebarkan dakwah dan pesan-pesan bernuansa religius, dan dalam waktu bersamaan melalui akun palsu dia bisa saja menjadi “provokator” yang menyebarkan kebencian kepada khalayak. Demikianlah “kehidupan maya” yang sulit ditebak, di mana kejujuran menjadi “barang mahal”.

Di sisi lain, pola komunikasi di dunia maya pun terkadang sering tanpa terkendali. Jika di dunia nyata dia bersikap kalem, saleh dan alim – entah sebagai pencitraan atau memang aslinya begitu, wallahu alam.

Tapi di dunia maya dengan menggunakan akun palsu, dia bisa saja bersikap “brutal” dan mencela siapa saja sampai mulutnya “berbusa”. Ini baru pola komunikasi, belum lagi kegiatan-kegiatan “tak senonoh” lainnya, semisal membagikan (share) foto dan video-video tak pantas guna membuka aib orang lain atau malah justru “memasarkan” aibnya sendiri. “Pening kepala awak”, begitulah fenomena dunia maya saat ini.

Di sinilah tantangannya. Jika sudah demikian adanya, inilah yang mungkin disebut para netizen kaya Iptek tapi miskin Imtaq (iman dan takwa)

Meskipun Rasulullah tidak pernah menjelaskan etika bermedia sosial secara spesifik, bukan berati panduan bermedia sosial tidak ada dalam Islam. Setidaknya ada beberapa aturan yang perlu diperhatikan dalam bermedia sosial, di antaranya:

Gunakan Media Sosial untuk Hal yang Bermanfaat

Media sosial saat ini tak ubahnya seperti senjata tajam. Ia dapat digunakan untuk agenda kebaikan, seperti menyambung silaturahim dan berbagi ilmu pengetahuan, dan dapat pula diarahkan untuk menusuk dan membinasakan nyawa orang.

Memang pada saat update status tidak ada darah yang tertumpah seperti halnya menusuk pedang ke perut orang. Tetapi coba perhatikan, tidak jarang status ujaran kebencian yang mengundang provokasi, konflik, bahkan bertumpahan darah.

Sebab itu, gunakanlah media sosial untuk kebaikan, menyebarkan ilmu pengetahuan, bukan fitnah dan kebencian. Kalau tidak bisa menyebar dan berbuat kebaikan di media sosial, lebih baik tidak usah ikut-ikutan update status ataupun menyebar berita yang belum jelas kebenarannya.

Rasulullah SAW mengatakan, “Sebagian dari kebaikan keislaman seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya” (HR: Tirmidzi)

Gunakan Bahasa yang Sopan dan Tidak Provokatif

Sahabat Abu Musa al-‘Asy’ari pernah bertanya kepada Rasul: Wahai Rasul siapakah muslim terbaik? Rasul menjawab, “Muslim yang mampu menjaga orang lain dari ucapan dan perbuatannnya” (HR: al-Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah disebutkan, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau lebih baik diam (jika tidak mampu berkata baik)” (HR: al-Bukhari dan Muslim).

Kedua hadis ini menunjukan betapa pentingnya menjaga lisan bagi Rasulullah. Bahkan standar kebaikan, keutamaan, dan kesempurnaan Iman diukur berdasarkan sejauh mana ia mampu menjaga lisannya. Dalam konteks bermedia sosial, tentu kualitas iman dan islam seorang muslim dapat dilihat dari bagaimana cara mereka menggunakan media: apakah untuk kebaikan atau keburukan, serta bagaimana bahasa yang mereka gunakan.

Perlu diketahui, status di media sosial, tentu tak ubahnya seperti halnya kita bertutur kata sehari-hari. Mungkin pengaruh status yang kita ketik lebih besar ketimbang berbicara langsung. Karena pada saat bicara langsung pendengarnya sangat terbatas, sementara di media sosial siapapun dan dari belahan dunia manapun bisa membacanya. Sebab itu, gunakanlah bahasa yang sopan dan tidak provokatif saat bermedia sosial.

Jangan Sebarkan Hoax

Sejak zaman Rasulullah hoax, atau berita bohong, selalu merugikan umat Islam. Masih ingat bagaimana kegalauan Rasulullah ketika dikabarkan bahwa ‘Aisyah sedang berduaan dengan laki-laki yang bukan mahram. Fitnah ini kemudian disebarkan secara massif dan merusak nama baik ‘Aisyah. Untung, tidak lama kemudian ayat al-Qur’an turun untuk menjelaskan bahwa ‘Aisyah tidak bersalah dan kabar yang disebarkan termasuk berita bohong.

Andaikan pada masa Rasulullah, bahaya hoax begitu dahsyat dan besar, apalagi masa sekarang di mana informasi terbuka luas dan setiap orang akan mengetahui setiap informasi dengan begitu mudahnya. Sebab itu, periksalah terlebih dahulu kebenaran dari informasi yang disampaikan. Tidak usah asal share, khawatir informasinya tidak benar, nanti malah merugikan dan merusak nama baik orang lain.

Komunikasi digital berkembang sangat pesat, siapa yang mampu memanfaatkan sumber daya informasi akan menjadi pemenang dalam berbagai lini.

"Akhlak dalam bermedia sosial sangat penting bagi para mahasiswa dan umat Islam pada umumnya. Ada beberapa ayat yang relevan dengan adab kita dalam menggunakan media ini. Misalkan menyangkut muroqobah, bertanggungjawab, azas manfaat dan selektif menerima informasi," 

Bukan dengan mempersoalkan kelemahan-kelemahan personal apalagi yang menyangkut privasi. Di tahun politik, isu tentang keislaman dan ibadah kandidat yang akan dipilih dalam pilpres lebih banyak mendapat perhatian publik daripada isu program dan kebijakan.

"Politik identitas sering dimanfaatkan untuk kepentingan politik praktis. Ketika pesta demokrasi usai, nasib konstituen pun terbengkalai karena tidak terbangunnya konsolidasi demokrasi yang mengarah pada pencapaian tujuan nasional," 

Bagaimanapun juga agama tidak hanya mengajarkan mengenai akidah, namun juga akhlak. Akidah tanpa akhlak akan membuat orang tinggi hati, merasa dirinya paling mulia hingga merendahkan pendapat orang lain. Akhlak tanpa akidah hanya akan membuat kita bingung dan lupa jati diri kita sebagai muslim, lupa siapa Tuhan kita dan bagaimana kita harus beribadah. Maka, mempelajari keduanya adalah ibarat dua sisi mata uang yang saling melengkapi dan tak dapat dipisahkan.

Sungguh amat tidak pantas kita sebagai orang yang beragama dan terpelajar dengan mudahnya merendahkan para ulama. Bagaimanapun juga, akhlak adalah hal yang sangat penting untuk diperhatikan di era social media ini, terlebih jika sudah berurusan dengan ulama. Pun juga dengan orang selain ulama, akhlak juga perlu deperhatikan.

Maka dengan itu kita sebagai penerus bangsa, dan pemakai media sosial, harus dengan beretika dan menggunakannya dengan baik, tidak di salah gunakan.

Ada salah satu hadist sekaligus doa nabi berkaitan tentang akhlak, 

عن أبي عبد اله النعمنمان بن بشير رضي الله عنهما قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم: ” إن الحلال بين، وإن الحرام بين، وبينهما أمور مشتبهات لا يعلمهن كثير من الناس، فمن اتقى الشبهات فقد استبرأ لدينه وعرضه، ومن وقع في الشبهات وقع في الحرام، كالراعي يرعى حول الحمى يوشك أن يرتع فيه، ألا وإن لكل ملك حمى، ألا إن حمى الله محارمه، ألا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله، وإذا فسدت فسد الجسد كله، ألا وهي القلب ” رواه البخاري ومسلم

‘an abii ‘abdillahi annu’maan ibni basyiirin rodhiyallahu ‘anhumaa qoola: sami’tu rosuulallahi shollallahu ‘alaihi wa sallam yaquulu: ” innal halaala bayyinun, wa innal harooma  bayyinun,  wa bainahumaa umuurun musytabihaatun laa ya’lamuhunna katsiirum minan naasi,  famanit taqosy syubuhaati faqodis tabro’a lidiinihi wa ‘irdihi, wa man waqo’a fisy syubuhaati waqo’a fil haroomi, karroo’ii yar’a haulal hima yuusyiku  ay yarta’a fiihi,  alaa wa inna likulli malikin himan, alaa wa inna hima allahi mahaarimuhu, alaa wa inna fil jasadi mudzghotan idzaa sholahat sholahal jasadu kulluhu, wa idzaa fasadat fasadal jasadu kulluhu, alaa wahiyal  qolbu ” . rowaahul bukhoriyyu wa muslimun

Artinya: Dari Abu Abdullah An-Nu’man  bin Basyir Rodhiyallahu anhuma ia berkata: Saya telah mendengar Rosulullah Shollallahu alaihi wa sallam bersabda: ” Sesungguhnya perkara yang halal jelas, dan yang harom [juga] jelas. Dan diantara keduanya ada perkara yang samar samar. Barang siapa yang menjaga dirinya dari yang samar samar, maka dia telah membersihkan agamanya dan kehormatannya. Dan barang siapa yang jatuh dalam perkara yang samar samar ini, maka dia telah jatuh dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana seorang penggembala yang menggembala [ternaknya] disekitar tanah larangan maka lambat laun ia akan masuk kedalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan. Ketahuilah bahwa larangan Allah adalah hal hal yang diharamkanNya. Ketahuilah bahwa didalam tubuh [manusia] terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Maka ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati ” . (HR Bukhori dan Muslim)

Dibawah ini adalah beberapa sifat yang tak disukai Allah SWT:

1.  Allah juga sangat membenci orang yang berbahasa kotor, karena sama saja dengan hatinya kotor. Maka dengan bersosial media sama saja kaitannya dengan akhlak. 

2. Allah tidak menyukai orang yang membicarakan aib orang lain. Jadi dengan bersosial media harus pandai memilih. Memilih yang baik yang akan di jadikan topik perbincangan. Harus pandai memilih dalam berteman atau kelompok, yang bisa membawa dalam kebaikan.

3. Mempermainkan jihad, orang orang munafik yang Allah murkai. Allah hanya menerima yang baik.

Ada beberapa hal yang harus seorang muslim ketahui agar akhlak dalam media sosial baik, yaitu:

1. Menjauhkan berbicara aib orang lain

2. Menjauhi hal hal yang menjerumuskan ke maksiatan

3. Memilih teman dan kelompok yang baik

4. Banyak bershalawat 

5. Mengutamakan ibadah salah satunya qiyamulail.

Ada salah satu doa Rasul dan sahabat Rasul tentang akhlak, 

Dari Ali bin Abi Tholib Radhiyallohu’anhu Rosulullah Sholallohu’alaihi wasallam dalam salah satu doanya beliau mengucapkan:

اَلَّهُمَّ ا هْدِ نِيْ لِأَ حْسَنِ الأَ خْلاَ قِ، فَاِ نّهُ لاَ يَهْدِ يْ لِأَ حْسَنِهَا اِلاَّ أَنْتَ،

وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَا لَا يَسْرِفُ عَنِّىْ سَيِّئَهَا اِلَّا اَنْتَ

“Ya Allah… tunjukkanlah aku pada akhlak yang paling baik, karena sesungguhnya tidak ada yang bisa menunjukkan kepadanya selain engkau. Dan jauhkanlah aku dari keburukan, karena sesungguhnya tidak ada yang mampu menjauhkannya dariku selain Engkau” [HR. Muslim 771, Abu Dawud 760, Tirmidzi 3419].

Di antara keutamaan akhlak mulia adalah sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah Sholallohu’alaihi wasallam dalam sabda beliau:

مَا مِنْ شَئٍ اَثْقَلَ فِىْ مِيْزَانِ الْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ وَاِنَّ اللهَ يُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيَ

“Tidak ada yang lebih berat timbangan orang yang beriman pada Hari Kiamat dibandingkan akhlak mulia. Dan sesungguhnya Alloh membenci orang yang berbuat jelek dalam bicara”

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً، وَرِزْقاً طَيِّباً، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

– Allahumma Inniy As-aluka ‘ilman naafi’an, wa rizqon thoyyiban, wa ‘amalan mutaqobbalan –

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amal yang diterima“. (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Ibnu as-Sunni).

Dan juga Nabi صلى الله عليه و سلم berdoa, dengan doa:

اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي, وَعَلِّمْنِيْ مَايَنْفَعُنِيْ, وَ زِدْنِيْ عِلْمًا

– Allahumman-fa’niy bimaa ‘allamtaniy wa 'allimiy maa yanfa’uniy, wa zidniy ‘ilman –

“Ya Allah, berilah manfaat kepadaku dengan apa-apa yang Engkau ajarkan kepadaku, dan ajarkanlah aku apa-apa yang bermanfaat bagiku, Dan tambahkanlah ilmu kepadaku.” (HR. at-Tirmidzi:3599, dan Ibnu Majah:251, 3833).

DO'A BERLINDUNG DARI ILMU YANG TIDAK BERMANFAAT

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ, وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَ مِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

– Allahumma inniy a’udzubika min ‘ilmin laa yanfa’, wa min qolbin laa yakhsya’, wa min nafsin laa tasyba’, wa min da’watin laa yustajaabu lahaa –

“Ya Allah, Aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, jiwa yang tidak pernah puas, dan doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim:2722, an-Nasa’i VIII/260). (171)

 

Dalam menggunakan media sosial, sebaiknya kita juga dilarang untuk berprasangka buruk kepada seseorang, yang nantinya akan berdampak buruk juga bagi kita semua, berprasangka dapat mengakibatkan penyakit hati, merasakan cemas yang berlebihan, ketakutan yang menimpa, serta dosa mendzalimi orang lain, maka jauhi berghibah dan jauhi membicarakan aib-aib orang lain. 

Dalam media sosial juga kita harus saling mendoakan, mendoakan seluruh bencana maupun kasus-kasus kejahatan agar di selesaikan semua nya dan di akhiri dengan hikmah, tak lupa juga untuk selalu mendoakan ketika terjadi perdebatan di media sosial, bahkan pembantaian melalui media sosial.